Tuesday, February 8, 2022

ego

Aku kembali mempertanyakan perihal dunia ini. Apakah dunia ini hanya berisi gengsi?

Kemarin aku kembali berjalan.
Menapaki egois dalam diri.
Mencari ketenangan di antah berantah.
Tanpa mau satu batang hidungpun dapat mengendusku.

Namun begitu sulit rasanya mencari "dunia" milikku.
Karena yang aku lihat hanya manusia sombong dan durjana.
Mereka yang merasa lebih tinggi.
Mereka yang merasa lebih jauh berjalan.
Mereka yang menggendong ransel besar bahkan tak punya malu membuang sampahnya di jalur.

Ah, ya. Sekarang aku malu menjadi bagian dari mereka yang dengan keras menyuarakan "alam adalah ciptaan terindah, betapa aku mencintai alam, bla bla bla". Cuih! Itu hanya ada di caption istagram kamu, bukan di perilaku kamu. JANCOK!


-dari manusia (yang berusaha) rendah-

Friday, February 12, 2021

Jakarta Timur, DKI Jakarta

11-19-2020.

Kota Jakarta dengan hiruk pikuk kota metropolitan membuat siapapun yang datang akan merasakan bahwa kota ini tak pernah mati. Akan selalu ada gelandangan, pedagang kaki lima, dan pengamen yang berkejaran dengan satpol pp. Akan selalu ada teriakan teriakan dan bunyi klakson kendaraan dari pengemudi yang kesal karena macet yang tak kunjung usai. Akan selalu ada banci banci yang bergerilya di jalanan membawa alat ngamen. Dan akan selalu ada pengemudi pengemudi bajingan yang tak pernah mengerti bahwa knalpot bising mereka selalu merusak gendang telinga orang yg mendengar.

Tapi, seburuk dan sekesal apapun kota Jakarta. Dia selalu menjadi awal dari akhir dan akhir dari awal.

Malam ini hujan rintik rintik di awal bulan desember, semerbak aroma tanah perlahan menguap, melayang layang di udara hingga terhirup masuk kedalam rongga paru paru yang telah lama merindukan udara petualangan. Jantung, hati, dan lambung pun sepakat bersekongkol dengan paru paru untuk mempengaruhi otak yang mulai penat dengan bisingnya ibukota indonesia ini. Lalu otak dengan cerdiknya mempengaruhiku dengan memasang memori memori petualanganku sebelumnya.

'Ah iya, kemaren kentang [kena tanggung] banget sampe lombok doang ya'. Mulut mengeksekusi dengan percakapan pada diri sendiri.

-tulilulit tulilulit tulilulit-
Suara gawaiku berdering dengan cemprengnya.

'Halo, ngapa ngir?'. Seorang kawan dengan panggilan cengir menelpon

"Gue di rumah lu ni".

'Naek ae kawan!'.

Si cengir datang dengan menenteng plastik hitam.

'Ini baru kawan gue, maen kesini tangannya kaga kosong'. Yupp, aku memang sangat senang jika kawan main ke rumah, tapi lebih senang lagi jika dia membawa tentengan.

"Tai ledik lu ah".

Aku lekas pergi ke dapur untuk mengambil teko dan seloki.

'Buka nih ye?' Kataku basa basi.

"Buka lah, dibeli kan buat diminum"

Segera kutuangkan sebotol intisari yang sudah di masukkan kedalam plastik literan ke dalam teko, dan mulai menuangkan seloki demi seloki.

"Eh dil, ke lombok yok". Cengir dengan senyuman khasnya mengajakku.

'Hah lombok? Tanggung lombok mah, Sumbawa sekalian!' aku yang kebetulan sedang ingin berpetualang menyambut ajakannya dengan hangat.

"Sumbawa nih? Gas aja si gue, budget berapa ye?"

'Bawa aje semampu lo dah!'

Hari kian larut, namun bulan belum mau digantikan oleh matahari karena kami, 2 kawan lama sedang menyusun rencana liburan dengan menggebu gebu.

12-15-2020

Siang dan malam silih berganti, hingga akhirnya waktu yang di tentukan telah tiba, segala persiapan sudah matang, bermodalkan uang 300 ribu di dompet, kami berangkat menantang Nusa Tenggara Barat.

Kami bertolak dari stasiun Pasar Senen Jakarta menuju stasiun Pasar Turi Surabaya.

Sunday, March 1, 2020

manusia merusak - alam memerperbaiki



Sudah pernah lihat kejadian luar biasa di dunia ini?

Kejadian di mana manusia berbondong bondong merusak alam.

Aku tahu kamu sudah lihat, bahkan kita tahu bahwa kita ikut andil dalam merusak alam.
Berapa banyak plastik yang kita gunakan hari ini?
Berapa banyak plastik yang kita buang hari ini?
Berapa banyak alam yang harus musnah karena ulah kita?

Aku ingat betul ketika mahameru menjadi tempat shooting film 5 cm.
Film booming, naik gunung jadi trend.
Mahameru yang begitu cantik perlahan mulai pudar, perlahan dimakan oleh plastik tak bertanggung jawab yang pendaki pendaki bawa. Ranukumbolo yang begitu jernih perlahan mengkeruh karena tangan tangan jahil.

Sebentar.

Tak usah jauh jauh ke malang, kampung kelahiranku yang katanya ibu kota negara ini dulu begitu asri dan indah. Salak salak condet yang bebas di petik, sungai sungai yang belum tersentuh limbah, tanah tanah yang masih sehat di tanami tanaman.

Bagaimana keadaan kampungku sekarang? Boro boro metik salak, pohonnya saja tidak ada, dan sekarang memetik rambutan saja di teriaki maling sama tetangga. Boro boro mancing ikan di sungai, airnya saja bagaikan tempat pembuangan sampah. Boro boro mau menanam tanaman, yang ada beton yang tertanam kekar.

Lihat saja gunung gede pangrango. Bagaimana nasibnya? Setiap jengkal di trek pendakian selalu ada sampah sampah plastik pendaki tak bertanggung jawab, aku sampai malu ketika teman dari malang mendaki ke sana. Maaf kawan, masih banyak dari kita yang tidak bisa menggunakan akal sehatnya dengan baik.

Sekarang bayangkan kita punya rumah yang rapih, bersih, megah. Kita kedatangan serombongan tamu, tanpa tudung aling aling mereka tertawa sekeras kerasnya, memainkan musik seheboh hebohnya, mereka membuang sampah di sembarang tempat, bahkan kamar kita pun di jadikan tempat sampah, apa yang akan kita lakukan?

Gunung gede seperti itu sekarang.
Pendaki pendaki seperti itu sekarang, tak ada moral.

Aku begitu malu di sebut pendaki.

Sekarang bersapa ria di gunung saja sudah menjadi kegiatan jarang di gunung.
Tak ada lagi pendaki ramah. Apalagi mereka yang punya uang tak terbatas. Berkeril osprey, mamot dan segala rupa alat outdoor mahal. Yang membuat mereka dengan pdnya sombong dan tak mau bersapa ria.

Sekarang aku bingung, kegunung mau apa?

Kalian tenang! Alam bisa memperbaikinya dengan sendiri. Tak perlu campur tangan dengan manusia manusia pengganggu.
Asalkan kita mendukung, asalkan kita menjadi pendaki yang bertangggjung jawab.

Salam hangat dari jakarata!
Semoga kita bisa lebih menyangi alam. semoga kita menjadi bertanggung jawab.

Semoga alam tidak membalas.

Friday, January 10, 2020

KELANA #2

Pukul 8 pagi, Mentari telah bersinar cerah membangunkan 4 orang kaum rebahan yang gaya gayaan naik gunung semeru.

Subuh tadi sempat badai walau hanya sebentar, membuat 2 tenda kami semerawut walau tak parah.

Kami membagi 2 team, aku dan bang jum merapihkan tenda yang semerawut, mas agung dan bang taher mulai memasak hidangan semua umat, yuppp. Indomie seleraku.

Hanya dalam 5 menit, indomie telah pindah semua ke perut kami berempat.

Aku nyeletuk dengan bahasa jawa yang pas-pasan.

"Wes mangan ora udud karo kopi, paru paru ora smile iki, mas agung masak kopi toh? Kopi kelas kakap hahahaha".

Mas agung adalah seorang barista di malang, kemampuannya sudah tidak di ragukan lagi. Ia segera meracik v60 bali kintamani, niat sekali emang mas agung ini, ke gunung bawa grinder dan alat lainnya.

Aku yang beruntung, sudah dapat saudara baru, logistik bertambah, bisa minum v60 diatas awan pula. Yupp sejak di pos 1 kita sudah berada di atas awan.

Di sela perkopian dan pengasapan kami, mas agung coba-coba bercanda.

"Lurr, kita muncak yok!"

"Eh ayo lah mas, sayang kita udh disini ora muncak"

"Ayo gass mas"

"Yowes packing, biar makin cepet summitnya"

Ahhh, dari sekedar bercanda ngajak ke puncak, ditanggapi serius. Kami mulai muncak pukul 10 pagi, yang seharusnya tidak boleh.

Jangan ikuti kami, tak sepatutnya. Memang sudah aturannya summit attack itu dini hari, agar sampai puncak siang, dinginnya tidak begitu menusuk dan angin tidak mengarah ke puncak, sangat bahaya kalau erupsi semeru terhirup oleh pendaki, legenda Soe hok gie meninggal di puncak semeru karena itu, dan juga takut takut jikalau batas vegetasi tidak terlihat ketika turun, yang ada malah nyasar ke blank 75, kawasan dimana para pendaki hilang.

Setelah pukul 12 siang, kami sampai di batas vegetasi.

Batas vegetasi adalah batas antara pepohonan dan jalur pasir yang menuju ke puncak.

Dari situ, para pendaki memulai summit attack yang sesungguhnya.

Jalurnya berpasir sangat dalam, selangkah maju, 2 langkah terbawa pasir turun, di jalur hanya ada kami ber-4, tak ada bahaya batu jatuh.

Agar tidak terlalu berat, kami menaruh sebagian besar logistik dan alat alat kopi mas agung di batas vegetasi dengan cara menimbun -yang ternyata itu adalah sebuah kesalahan-.

Sesampainya di tengah jalur, kami beristirahat, tenaga terkuras begitu banyak, aku dan bang taher sempat tertidur sebentar, ahh itu tidur paling nikmat, bangun bangun disuguhi oleh samudra awan yg begitu luas.

Kesalahan kami menimbun terlalu banyak mulai terlihat. Kami kehabisan tenaga, logistik yang kami bawa telah habis. Tak ada air, makanan dan pendaki lain untuk dimintai tolong. Yang ada hanyalah tekad yang teguh. Bahkan lebih teguh daripada puncak para dewa.

Naik lagi selangkah demi selangkah, mas agung kehabisan napas, kadar oksigen di puncak memang sedikit, beruntung kami membawa tabung oksigen. Mas agung lemas kelelahan.

"Ayo banggg itu sudah kelihatan benderanya, semangattt" bang jumadil memacu terlebih dahulu, kami semua jadi semangat lagi.

Disini perjuangan kita di uji, beberapa kali aku ingin kembali turun, tapi karena semangat dan dukungan dari saudara saudara baruku, aku bisa lanjut.

Seperti hidup ini, kadang kala perjuangan kita di uji, beberapa kali kita ingin mundur dan menyerah, namun karena semangat dari orang sekitar dan tekad yang teguh untuk sampai ke tujuan, kita harus bisa berjuang lebih keras. Pada saat saat seperti itulah pertemanan sangat membantu.

Pukul 6 petang kami tiba di puncak, ketika pendaki lain mendapat sunrise, kami mendapat sunset. Menakjubkan, indah sekali.

Hanya 3 menit kami di puncak, berbahaya jika berlama lama, takut batas vegetasi tidak terlihat nantinya.

Kami segera turun setelah foto foto dan menikmati indahnya sunset puncak tertinggi jawa.

Pukul 6 lebih 3 menit, kami mulai turun. Betapa nikmatnya turun di track berpasir, rasanya seperti kita bermain sepatu roda.

Kami mulai panik ketika kami belum juga menemukan batas vegetasi.

Beruntung, di saat saat terakhir kami nyasar mulai terlihat batas vegetasi, kami segera mengambil logistik dan alat alat kopi dan mulai menyusuri batas vegetasi, mencari tempat yang luas untuk beristirahat.

Mas agung dengan cepat meracik kopi, kami istirahat dengan senang, suhu udara mulai dingin, kopi mas agung menjadi lebih nikmat ribuan kali, ditemani rokok dan canda tawa saudara saudara baruku.

Pukul 8 malam kami sampai di kalimati, mengisi lambung dan kemudian istirahat.

Pukul 7 pagi kami bangun karena badai di kalimati mulai mengganas, mengisi lambung dan paru paru, 4 kawan kami memutuskan untuk turun terlebih dahulu ke ranukumbolo, kami rombongan yang suka sekali rebahan lanjut beristirahat menunggu badai reda.

Pukul 10 pagi badai mulai reda, kami putuskan untuk turun dari kalimati. Perjalanan sekitar 2 jam dari kalimati ke ranu kumbolo.

Kami ber delapan sudah merencanakan akan makan besar di ranukumbolo, maka sesampainya di rakum, kami bergegas menggelar matras, membuka kompor, dan alat tempur lainnya.

Masak masak di gunung itu butuh waktu yang lama, apalagi ketika itu suhu udara di rakum sedang tidak bersahabat, bahkan gas yang kami gunakan membeku.

Pukul 2 siang makanan siap saji, kami bergegas menghabiskannya dengan senang hati.

Pengambilan ktp di ranupane sangat disiplin waktu, kami harus sampai di basecamp sebelum pukul 6 petang, jika tidak tepat waktu, maka ktp baru bisa diambil keesokan harinya.

Maka kami membagi tim. Aku, bang taher, dan bang pian pergi lebih dulu demi pengambilan ktp. Sisanya jalan santai sembari swafoto dan menikmati perjalanan.

Kami bertiga lari seperti dikejar setan, lari menjadi tidak mudah ketika membawa keril besar dengan berat kisaran 50 kilo, tapi dengan semangat dan stamina yang banyak setelah makan besar di rakum, kami tidak lagi jadi kaum rebahan.

Di antara pos 2 ke pos 3, kami bertemu rombongan lain, 1 pria dan 2 wanita. Mbak mbak yang 1 terlihat berjalan pincang sambil membawa keril besar, cantik memang. Dan ternyata ketika aku tanya, kakinya keseleo.

Bang taher berbisik,

"Eihh cantik kali itu yang keseleo, tolong bang fadil bilangin, biar aku yang bawa kerilnya"

"Keril dia aja kau mau bawa, keril ku coba bawa lahh"

"Eiihhh siapa tau di bawah nanti aku jadi calon suaminya toh?"

"Sial kau hahahaha"

Akhirnya aku bilang kepada si mbak yang keseleo untuk membawakan kerilnya.

Beban kami bertambah, tapi begitulah pendaki, saling menolong meskipun dalam kesusahan.

Pukul 5 sore kami sudah melewati pos 1, bang taher kelelahan membawa 2 beban keril.

"oke bang gantian sini biar aku yang bawa keril si mbak" kataku.

Sekarang beban ku bertambah, depan belakang, dan harus lari pula mengejar ktp, nafas sudah terengah engah, badan sudah meminta istirahat, paru paru sudah meminta asap, namun dengan semangat 45 aku, bang taher dan bang pian lari semakin cepat.

Pukul 6 kurang 5 menit, kami telah sampai di ranupani, tapi kurang lebih butuh waktu 10 menit untuk sampai ke base camp pengambilan ktp, kami lari semakin cepat, dengan nafas yang sudah sangat kelelahan.

Pukul 6 lebih 5 menit kami sampai di basecamp, dengan segala kecemasan kami mendekati pos pengambilan ktp.

Ahhhh betapa beruntungnya kami, masih buka. Tanpa istirahat, kami segera mengambil ktp. Dan tanpa aba aba, kami bersamaan ambruk di depan tukang bakso.

Butuh beberapa menit sampai kami tersadar bahwa kami lapar, kami segera memesan bakso dan membeli rokok. Dan bakso yang kami pesan adalah bakso terenak karena perut yang kelaparan, cuaca yang dingin, dan badan yang kelelahan. -baksoku dibayarin sama bang taher, makasih yo bang-

Pukul 9 malam rombongan kami yang lainnya sampai di basecamp, saatnya aku bingung bagaimana caranya pulang, aku tak memegang uang barang 10 ribu pun.

Mas agung menyuruhku ikut naik jeep mereka dan menginap ke markas hmi itn al-kindi malang. Ahh, tuhan selalu menyediakan tempat bagi mereka yang bisa berkomunikasi.

Aku ikut jeep mereka dan menginap di markas al-kindi malang, saudara memang tak pernah meninggalkan saudaranya.

-kelana semeru berakhir disini-

Saturday, December 28, 2019

KELANA #1

Semua berawal dari hati yang patah.
Dan akan berakhir oleh indahnya nusantara.


Juni 2019, aku bertolak dari jakarta menuju pare, kota yang terkenal dengan kampung inggrisnya. Sejujurnya, aku tak ada niatan sama sekali untuk kesana, hanya ingin dekat dengan pacarku, nana panggilanku padanya, dulu.

Juli 2019, aku berseteru, tak ada hubungan yang mulus bukan? Aku putuskan untuk pergi ke gunung semeru, dengan budget pas pasan, dengan logistik secukupnya, aku pergi sendirian, tepat tanggal 7 juli 2019, aku berangkat, dan nana pun bertolak ke medan.
Sejak saat itu, dunia kami mulai renggang.

Pendakian semeru membuatku menyadari bagaimana pentingnya komunikasi, di kereta antara pare - malang, aku bertemu dengan seorang pendaki juga, ternyata nama kita sama, fadil, bedanya, dia orang malang. berkat komunikasi, aku di ajak ngopi sembari mabar dengan kawan kawannya seturunnya dari kereta, dan dibawa ke kediamannya, sudah dapat kawan baru, dapat tempat menginap gratis pula, indahnya komunikasi.

Malang begitu dingin kala itu, seperti tau bahwa perasaan nana kepada ku yang juga mulai mendingin.

Pagi pagi tanpa mandi, aku bergegas, diantar bang fadil ke stasiun malang kota, mencari tumpangan ke pasar tumpang, 5 menit menunggu, tak ada kabar baik, menit selanjutnya seorang ojek mendekat, "mau ke tumpang ya?" aku segera menjawab dengan anggukan.

"ayo ikut saya aja, sekalian saya mau pulang, rumah saya di tumpang"

"Biayanya berapa bang?"

"Udah santai ajaaa, sekalian saya pulang ini mah", indahnya komunikasi.

Perpisahan pertamaku di kota malang.

Naik ojek istimewa, dengan menggendong keril besar kududuk di belakang, aku bertolak ke pasar tumpang.

Di pasar tumpang aku tidak menemukan jeep sama sekali, tidak ada tanda tanda pendaki, tidak ada sama sekali, aku mulai bingung dan bertanya kepada pada bapak ojek istimewa.

"Yaudah, saya anter sekalian ke ranupani ayok"

Atas dasar kepepet dan kebaikan hati bapak ojek istimewa, aku bertanya lagi.

"Tapi gimana ya pak, uangku sedikit iki"

"Wes rapopo, aman karo aku mah"

Dari tumpang aku pergi ke ranupani dengan ojek istimewa, sesampainya di ranupani, aku kaget bukan kepalang, aku ditagih 350 ribu.

"Waduh bang, kan aku udah bilang ini uangku sedikit, gimana ya bang?"

"Yowes di dompet ono piro?"

"Sisa 270 ribu bang"

"Yowes sinikan 250 ribu, nanti sisanya kalo udah turun yo, iki nomer hp ku"

Kurelakan 250 ribu, 20 ribu habis untuk materai dan gas, habis sudah tak tersisa.

Sial, uang habis, di atm kosong, pulangnya bingung mau naik apa.

Aku bimbang, mau lanjut mendaki atau pulang dengan jalan kaki, yowes kesini nya nekat, ya harus nanjak dengan nekat juga!

Mungkin itu pikiranku waktu itu.

Ternyata di semeru tidak boleh ada pendakian solo, aku harus mencari rombongan lain,
Dengan kekuatan komunikasi, aku ikut rombongan dari itn malang, jumlah mereka 7 orang, pas kalo aku nyempil 1.

Mas agung, bang jumadil, bang taher, bang wahid, bang mizar, bang pian, dan mbak rima.

Kami mulai mendaki hari senin, tanggal 8, bulan juli, pukul 10 pagi waktu indonesia bagian barat, dengan semangat menggebu gebu, kami ber delapan maju menyusuri track semeru yang tak mudah.

Pukul 5 sore kami mulai melihat ranukumbolo, ternyata kata mereka mereka yang sudah pernah ke semeru itu benar adanya, rakum itu sangat sangat indah, menyegarkan mata, dan yang paling penting adalah menyegarkan hati yang patah.

Pukul 10 malam, kami berhasil sampai di kalimati, bergegas membuat tenda, memasak asupan, dan beristirahat untuk summit dini hari.

Tanggal 9 juli, pukul 2 dini hari, kami bangun.
4 orang bergegas ke summit.

Dan 4 lainnya termasuk aku adalah pendaki malas yang tergolong kaum rebahan, kami kembali tidur.

Thursday, September 19, 2019

GERAM #3

Hahahaha, salam sejahtera dari duniaku.

Aku semakin geram belakangan ini, pagi buta sudah muncul kabar asap yang semakin tebal, siang sedikit mucul lagi kabar KPK yang DIKEBIRI.

Pak gubernur asik liburan ke luar negri, pak walikota setali tiga uang dengan gubernur, bapak bapak di DPR bilang itu bukan urusan kami.

KPK DIKEBIRI, ASAP MEMBUMBUNG LEBIH TINGGI, PAPUA MAU REFERENDUM, ACEH KABAR LALU INGIN PISAH ATAP DARI INDONESIA, RAKYAT DI PERKOSA DENGAN KENAIKAN BPJS, LISTRIK, DAN MINYAK BUMI

Geram aku dengan negri ini, apakah aku boleh membenci pejabat?

Sebenarnya siapa perancang dari pengebirian KPK? Aku beri tahu satu dua hal yang aku tau, GOLKAR yang menyabet penyandang partai dengan anggota korup terbanyak bulat memilih bapak itu untuk menjadi ketua KPK, selanjutnya PDIP penyabet gelar terbanyak korup kedua juga bulat menduku dia, dan masih banyak partai lainnya ikutan program bebas berkorupsi, Indonesia tengah dilanda bencana, pemimpin tak lagi di percaya, bayi baru lahir sudah dibebani hutang milyaran, gaya hidup kebarat baratan namun tagihan kebanyakan, terpaksa gaya necis padahal sedang krisis.

Hujat sana sini tapi pribadi tak kunjung diperbaiki, dunia sudah gila dengan aksi sana sini, kalimantan mau dijadikan ibukota, tak punya dana, malah mau menjual kalimantan lainnya.

Apakah hutang yang jumlahnya triliunan mau dibayar dengan asap? Malaysia minta ganti rugi akibat karhutla, pemerintah minta rakyat bersabar dan enjoy menhisap asap, mereka asik liburan kesana sini.

Dulu pejabat BPJS diberi mobil cuma cuma, dana sekian untuk si ini dan si itu, sekarang rakyat yang dibebani kenaikan BPJS 100% GOOD JOB.

YANG KEBAKARAN HUTAN, TAPI KENAPA KPK YANG HANGUS?

AYO BERDEBAT! AKU MAU BUKA PIKIRAN LEBAR LEBAR! BAGIAN MANA YANG HARUS AKU PERBAIKI?

Tuesday, September 10, 2019

GERAM #2

Aku akan bercerita, semoga cerita ini tak jadi ceritamu jua.

Dulu aku di targetkan masuk MI agar dasar agamaku terbentuk, aku manut karena aku masih berfikir layaknya anak anak.

Lulus MI aku bilang pada ayah bahwa aku ingin masuk SMP favorit.

Ayahku menyuruhku masuk MTS agar dasar agamaku semakin terbentuk, setelah itu terserah mau ambil jurusan apa saat SMA nanti.

Aku bilang setelah lulus MTS bahwa aku ingin masuk SMA favorit.

Ayahku menolak, ia ingin aku meneruskan studi di sebuah pesantren tempat beliau nyantri dulu. Setelah itu baru terserah mau ambil kuliah dimana.

Aku lulus pesantren, ingin kuliah jurusan kehutanan.

Ayahku berkata, mau jadi apa kamu nanti, lebih baik ambil jurusan pendidikan, biar jadi guru meneruskan ayah.

Satu pelajaran yang bisa aku ambil, anak anak jika terus di berikan janji, di iming imingi untuk bebas memilih tapi akhirnya tetap dikekang sama saja seperti mengurung burung di kandang yang besar, memang luas, bisa memilih disisi kandang manapun, tapi ia tak bisa terbang tinggi ke langit yang ia inginkan.

Ayah, aku ingin terbang bebas, biarlah aku terjatuh dari langit, toh semua akan baik baik saja dengan dukunganmu.
Add caption

Tuesday, August 27, 2019

Geram #1


Sekarang pergantian hari dari selasa ke rabu, tanggal 27 ke 28.

Aku bercakap oleh seorang karib, bercakap tentang masa depan kami, tentang masa depan indonesia, tentang masa depan dunia.

Kemarin kemarin aku bercita cita ingin menjadi seorang hakim yang adil agar hukum negeri ini tak tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Beberapa saat lalu aku merubah total mindset ini, aku kelak ingin menjaga keutuhan NKRI, kalau soal persatuan aku yakin, 72 tahun NKRI berdiri pasti sudah belajar banyak tentang persatuan, ini bukan sekedar tentang persatuan.

Ini tentang keutuhan alam NKRI.
Sekarang manusia hanya berfikir untuk menciptakan menciptakan dan menciptakan. Tanpa tahu bagaimana harus memusnahkannya.

Bagai plastik yang ribuan bahkan ratusan ribu diciptakan hanya dalam sehari. Diciptakan dalam sehari, lalu bagaimana memusnahkannya? Di bakar? Asapnya sangat beracun untuk lapisan ozon, apalagi untuk tubuh manusia yang lemah. Di timbun? Hanya akan merusak lapisan tanah, tetap tak terurai. Dihanyutkan ke kali? Banjir bandang yang akan datang. Dibuang ke laut? Lihat! Biota laut belakangan ini begitu tersiksa dengan menganggap plastik itu makanan, atau yang lebih parah, terjebak dari masih peranakan hingga sekian tahun lamanya, membunuh secara perlahan.

Siapa yang peduli?

Aku ucapkan niat tak terduga ini pada keluarga tercinta, bukannya dukungan, malah  keraguan dan ceramah yang di lambungkan sebagai balasan.

'Nak, kalau kamu ambil jurusan kehutanan, maka anak istri kamu akan sengsara, mereka hidup sendirian sedang kamu melakukan tugas, bantar bantar kamu menjadi polisi hutan, atau kalau kamu kompeten kamu akan menjadi mentri kehutanan, dengan suapan sana sini, lebih baik kamu menjadi pendidik yang mendidik anak didik kamu supaya menyayangi alam ini lebih dalam'

Aku tercenung, mulai berfikir.

Bagaimana kalau setiap orang berfikir seperti itu? Maka siapa yang mengeksekusi? Siapa yang terjun langsung? Hanya mendidik, mengajar supaya anak didik jadi cinta alam lebih dalam.

Sedangkan anak anak abad ini sudah di cekoki kebodohan kebodohan yang begitu tolol.

Wahai keluargaku, biarkan aku mengejar mimpi ini. Seridaknya jika aku tak ambil kehutanan, biarkan aku yang membela rakyat kecil yang divonis tanpa tahu apa kesalahannya.

Aku kesal dengan keadaan.
Sekarang coba pikirkan, anak anak abad ini sudah dicekoki gen halilintar di youtube, dicekoki video video glamour dengan nikmatnga dunia, dicekoki dengan nikmatnya berpacaran.

Bayangkan kalau anak anak kampung, anak anak yang lahir dari keluarga sederhana memaksakan kehidupannya seperti kehidupan gen halilintar, yang ada hanya keluarga mereka semakin dihimpit dengan keadaan ekonomi.

Pendidik tidak bisa terjun ke dalam kehutanan, namun pelaku pelindung hutan bisa terjun ke dalam dunia pendidikan.

Aku sayang kalian keluargaku, tapi izinkan aku  menggapai apa yang ada dalam impianku saat ini.

Friday, August 23, 2019

Selamat datang!

Selamat datang di album diri! Ini adalah sebuah rekam jejak hidup saya, selamat menikmati kata demi kata.

ego

Aku kembali mempertanyakan perihal dunia ini. Apakah dunia ini hanya berisi gengsi? Kemarin aku kembali berjalan. Menapaki egois dalam diri....