Saturday, December 28, 2019

KELANA #1

Semua berawal dari hati yang patah.
Dan akan berakhir oleh indahnya nusantara.


Juni 2019, aku bertolak dari jakarta menuju pare, kota yang terkenal dengan kampung inggrisnya. Sejujurnya, aku tak ada niatan sama sekali untuk kesana, hanya ingin dekat dengan pacarku, nana panggilanku padanya, dulu.

Juli 2019, aku berseteru, tak ada hubungan yang mulus bukan? Aku putuskan untuk pergi ke gunung semeru, dengan budget pas pasan, dengan logistik secukupnya, aku pergi sendirian, tepat tanggal 7 juli 2019, aku berangkat, dan nana pun bertolak ke medan.
Sejak saat itu, dunia kami mulai renggang.

Pendakian semeru membuatku menyadari bagaimana pentingnya komunikasi, di kereta antara pare - malang, aku bertemu dengan seorang pendaki juga, ternyata nama kita sama, fadil, bedanya, dia orang malang. berkat komunikasi, aku di ajak ngopi sembari mabar dengan kawan kawannya seturunnya dari kereta, dan dibawa ke kediamannya, sudah dapat kawan baru, dapat tempat menginap gratis pula, indahnya komunikasi.

Malang begitu dingin kala itu, seperti tau bahwa perasaan nana kepada ku yang juga mulai mendingin.

Pagi pagi tanpa mandi, aku bergegas, diantar bang fadil ke stasiun malang kota, mencari tumpangan ke pasar tumpang, 5 menit menunggu, tak ada kabar baik, menit selanjutnya seorang ojek mendekat, "mau ke tumpang ya?" aku segera menjawab dengan anggukan.

"ayo ikut saya aja, sekalian saya mau pulang, rumah saya di tumpang"

"Biayanya berapa bang?"

"Udah santai ajaaa, sekalian saya pulang ini mah", indahnya komunikasi.

Perpisahan pertamaku di kota malang.

Naik ojek istimewa, dengan menggendong keril besar kududuk di belakang, aku bertolak ke pasar tumpang.

Di pasar tumpang aku tidak menemukan jeep sama sekali, tidak ada tanda tanda pendaki, tidak ada sama sekali, aku mulai bingung dan bertanya kepada pada bapak ojek istimewa.

"Yaudah, saya anter sekalian ke ranupani ayok"

Atas dasar kepepet dan kebaikan hati bapak ojek istimewa, aku bertanya lagi.

"Tapi gimana ya pak, uangku sedikit iki"

"Wes rapopo, aman karo aku mah"

Dari tumpang aku pergi ke ranupani dengan ojek istimewa, sesampainya di ranupani, aku kaget bukan kepalang, aku ditagih 350 ribu.

"Waduh bang, kan aku udah bilang ini uangku sedikit, gimana ya bang?"

"Yowes di dompet ono piro?"

"Sisa 270 ribu bang"

"Yowes sinikan 250 ribu, nanti sisanya kalo udah turun yo, iki nomer hp ku"

Kurelakan 250 ribu, 20 ribu habis untuk materai dan gas, habis sudah tak tersisa.

Sial, uang habis, di atm kosong, pulangnya bingung mau naik apa.

Aku bimbang, mau lanjut mendaki atau pulang dengan jalan kaki, yowes kesini nya nekat, ya harus nanjak dengan nekat juga!

Mungkin itu pikiranku waktu itu.

Ternyata di semeru tidak boleh ada pendakian solo, aku harus mencari rombongan lain,
Dengan kekuatan komunikasi, aku ikut rombongan dari itn malang, jumlah mereka 7 orang, pas kalo aku nyempil 1.

Mas agung, bang jumadil, bang taher, bang wahid, bang mizar, bang pian, dan mbak rima.

Kami mulai mendaki hari senin, tanggal 8, bulan juli, pukul 10 pagi waktu indonesia bagian barat, dengan semangat menggebu gebu, kami ber delapan maju menyusuri track semeru yang tak mudah.

Pukul 5 sore kami mulai melihat ranukumbolo, ternyata kata mereka mereka yang sudah pernah ke semeru itu benar adanya, rakum itu sangat sangat indah, menyegarkan mata, dan yang paling penting adalah menyegarkan hati yang patah.

Pukul 10 malam, kami berhasil sampai di kalimati, bergegas membuat tenda, memasak asupan, dan beristirahat untuk summit dini hari.

Tanggal 9 juli, pukul 2 dini hari, kami bangun.
4 orang bergegas ke summit.

Dan 4 lainnya termasuk aku adalah pendaki malas yang tergolong kaum rebahan, kami kembali tidur.

ego

Aku kembali mempertanyakan perihal dunia ini. Apakah dunia ini hanya berisi gengsi? Kemarin aku kembali berjalan. Menapaki egois dalam diri....