11-19-2020.
Kota Jakarta dengan hiruk pikuk kota metropolitan membuat siapapun yang datang akan merasakan bahwa kota ini tak pernah mati. Akan selalu ada gelandangan, pedagang kaki lima, dan pengamen yang berkejaran dengan satpol pp. Akan selalu ada teriakan teriakan dan bunyi klakson kendaraan dari pengemudi yang kesal karena macet yang tak kunjung usai. Akan selalu ada banci banci yang bergerilya di jalanan membawa alat ngamen. Dan akan selalu ada pengemudi pengemudi bajingan yang tak pernah mengerti bahwa knalpot bising mereka selalu merusak gendang telinga orang yg mendengar.
Tapi, seburuk dan sekesal apapun kota Jakarta. Dia selalu menjadi awal dari akhir dan akhir dari awal.
Malam ini hujan rintik rintik di awal bulan desember, semerbak aroma tanah perlahan menguap, melayang layang di udara hingga terhirup masuk kedalam rongga paru paru yang telah lama merindukan udara petualangan. Jantung, hati, dan lambung pun sepakat bersekongkol dengan paru paru untuk mempengaruhi otak yang mulai penat dengan bisingnya ibukota indonesia ini. Lalu otak dengan cerdiknya mempengaruhiku dengan memasang memori memori petualanganku sebelumnya.
'Ah iya, kemaren kentang [kena tanggung] banget sampe lombok doang ya'. Mulut mengeksekusi dengan percakapan pada diri sendiri.
-tulilulit tulilulit tulilulit-
Suara gawaiku berdering dengan cemprengnya.
'Halo, ngapa ngir?'. Seorang kawan dengan panggilan cengir menelpon
"Gue di rumah lu ni".
'Naek ae kawan!'.
Si cengir datang dengan menenteng plastik hitam.
'Ini baru kawan gue, maen kesini tangannya kaga kosong'. Yupp, aku memang sangat senang jika kawan main ke rumah, tapi lebih senang lagi jika dia membawa tentengan.
"Tai ledik lu ah".
Aku lekas pergi ke dapur untuk mengambil teko dan seloki.
'Buka nih ye?' Kataku basa basi.
"Buka lah, dibeli kan buat diminum"
Segera kutuangkan sebotol intisari yang sudah di masukkan kedalam plastik literan ke dalam teko, dan mulai menuangkan seloki demi seloki.
"Eh dil, ke lombok yok". Cengir dengan senyuman khasnya mengajakku.
'Hah lombok? Tanggung lombok mah, Sumbawa sekalian!' aku yang kebetulan sedang ingin berpetualang menyambut ajakannya dengan hangat.
"Sumbawa nih? Gas aja si gue, budget berapa ye?"
'Bawa aje semampu lo dah!'
Hari kian larut, namun bulan belum mau digantikan oleh matahari karena kami, 2 kawan lama sedang menyusun rencana liburan dengan menggebu gebu.
12-15-2020
Siang dan malam silih berganti, hingga akhirnya waktu yang di tentukan telah tiba, segala persiapan sudah matang, bermodalkan uang 300 ribu di dompet, kami berangkat menantang Nusa Tenggara Barat.
Definisi kalau dibisa-bisain, pasti bisa😩👍 btw suka sekali kak dgn kalimat "Menjadi awal dari akhir, dan akhir dari awal"
ReplyDelete