Friday, January 10, 2020

KELANA #2

Pukul 8 pagi, Mentari telah bersinar cerah membangunkan 4 orang kaum rebahan yang gaya gayaan naik gunung semeru.

Subuh tadi sempat badai walau hanya sebentar, membuat 2 tenda kami semerawut walau tak parah.

Kami membagi 2 team, aku dan bang jum merapihkan tenda yang semerawut, mas agung dan bang taher mulai memasak hidangan semua umat, yuppp. Indomie seleraku.

Hanya dalam 5 menit, indomie telah pindah semua ke perut kami berempat.

Aku nyeletuk dengan bahasa jawa yang pas-pasan.

"Wes mangan ora udud karo kopi, paru paru ora smile iki, mas agung masak kopi toh? Kopi kelas kakap hahahaha".

Mas agung adalah seorang barista di malang, kemampuannya sudah tidak di ragukan lagi. Ia segera meracik v60 bali kintamani, niat sekali emang mas agung ini, ke gunung bawa grinder dan alat lainnya.

Aku yang beruntung, sudah dapat saudara baru, logistik bertambah, bisa minum v60 diatas awan pula. Yupp sejak di pos 1 kita sudah berada di atas awan.

Di sela perkopian dan pengasapan kami, mas agung coba-coba bercanda.

"Lurr, kita muncak yok!"

"Eh ayo lah mas, sayang kita udh disini ora muncak"

"Ayo gass mas"

"Yowes packing, biar makin cepet summitnya"

Ahhh, dari sekedar bercanda ngajak ke puncak, ditanggapi serius. Kami mulai muncak pukul 10 pagi, yang seharusnya tidak boleh.

Jangan ikuti kami, tak sepatutnya. Memang sudah aturannya summit attack itu dini hari, agar sampai puncak siang, dinginnya tidak begitu menusuk dan angin tidak mengarah ke puncak, sangat bahaya kalau erupsi semeru terhirup oleh pendaki, legenda Soe hok gie meninggal di puncak semeru karena itu, dan juga takut takut jikalau batas vegetasi tidak terlihat ketika turun, yang ada malah nyasar ke blank 75, kawasan dimana para pendaki hilang.

Setelah pukul 12 siang, kami sampai di batas vegetasi.

Batas vegetasi adalah batas antara pepohonan dan jalur pasir yang menuju ke puncak.

Dari situ, para pendaki memulai summit attack yang sesungguhnya.

Jalurnya berpasir sangat dalam, selangkah maju, 2 langkah terbawa pasir turun, di jalur hanya ada kami ber-4, tak ada bahaya batu jatuh.

Agar tidak terlalu berat, kami menaruh sebagian besar logistik dan alat alat kopi mas agung di batas vegetasi dengan cara menimbun -yang ternyata itu adalah sebuah kesalahan-.

Sesampainya di tengah jalur, kami beristirahat, tenaga terkuras begitu banyak, aku dan bang taher sempat tertidur sebentar, ahh itu tidur paling nikmat, bangun bangun disuguhi oleh samudra awan yg begitu luas.

Kesalahan kami menimbun terlalu banyak mulai terlihat. Kami kehabisan tenaga, logistik yang kami bawa telah habis. Tak ada air, makanan dan pendaki lain untuk dimintai tolong. Yang ada hanyalah tekad yang teguh. Bahkan lebih teguh daripada puncak para dewa.

Naik lagi selangkah demi selangkah, mas agung kehabisan napas, kadar oksigen di puncak memang sedikit, beruntung kami membawa tabung oksigen. Mas agung lemas kelelahan.

"Ayo banggg itu sudah kelihatan benderanya, semangattt" bang jumadil memacu terlebih dahulu, kami semua jadi semangat lagi.

Disini perjuangan kita di uji, beberapa kali aku ingin kembali turun, tapi karena semangat dan dukungan dari saudara saudara baruku, aku bisa lanjut.

Seperti hidup ini, kadang kala perjuangan kita di uji, beberapa kali kita ingin mundur dan menyerah, namun karena semangat dari orang sekitar dan tekad yang teguh untuk sampai ke tujuan, kita harus bisa berjuang lebih keras. Pada saat saat seperti itulah pertemanan sangat membantu.

Pukul 6 petang kami tiba di puncak, ketika pendaki lain mendapat sunrise, kami mendapat sunset. Menakjubkan, indah sekali.

Hanya 3 menit kami di puncak, berbahaya jika berlama lama, takut batas vegetasi tidak terlihat nantinya.

Kami segera turun setelah foto foto dan menikmati indahnya sunset puncak tertinggi jawa.

Pukul 6 lebih 3 menit, kami mulai turun. Betapa nikmatnya turun di track berpasir, rasanya seperti kita bermain sepatu roda.

Kami mulai panik ketika kami belum juga menemukan batas vegetasi.

Beruntung, di saat saat terakhir kami nyasar mulai terlihat batas vegetasi, kami segera mengambil logistik dan alat alat kopi dan mulai menyusuri batas vegetasi, mencari tempat yang luas untuk beristirahat.

Mas agung dengan cepat meracik kopi, kami istirahat dengan senang, suhu udara mulai dingin, kopi mas agung menjadi lebih nikmat ribuan kali, ditemani rokok dan canda tawa saudara saudara baruku.

Pukul 8 malam kami sampai di kalimati, mengisi lambung dan kemudian istirahat.

Pukul 7 pagi kami bangun karena badai di kalimati mulai mengganas, mengisi lambung dan paru paru, 4 kawan kami memutuskan untuk turun terlebih dahulu ke ranukumbolo, kami rombongan yang suka sekali rebahan lanjut beristirahat menunggu badai reda.

Pukul 10 pagi badai mulai reda, kami putuskan untuk turun dari kalimati. Perjalanan sekitar 2 jam dari kalimati ke ranu kumbolo.

Kami ber delapan sudah merencanakan akan makan besar di ranukumbolo, maka sesampainya di rakum, kami bergegas menggelar matras, membuka kompor, dan alat tempur lainnya.

Masak masak di gunung itu butuh waktu yang lama, apalagi ketika itu suhu udara di rakum sedang tidak bersahabat, bahkan gas yang kami gunakan membeku.

Pukul 2 siang makanan siap saji, kami bergegas menghabiskannya dengan senang hati.

Pengambilan ktp di ranupane sangat disiplin waktu, kami harus sampai di basecamp sebelum pukul 6 petang, jika tidak tepat waktu, maka ktp baru bisa diambil keesokan harinya.

Maka kami membagi tim. Aku, bang taher, dan bang pian pergi lebih dulu demi pengambilan ktp. Sisanya jalan santai sembari swafoto dan menikmati perjalanan.

Kami bertiga lari seperti dikejar setan, lari menjadi tidak mudah ketika membawa keril besar dengan berat kisaran 50 kilo, tapi dengan semangat dan stamina yang banyak setelah makan besar di rakum, kami tidak lagi jadi kaum rebahan.

Di antara pos 2 ke pos 3, kami bertemu rombongan lain, 1 pria dan 2 wanita. Mbak mbak yang 1 terlihat berjalan pincang sambil membawa keril besar, cantik memang. Dan ternyata ketika aku tanya, kakinya keseleo.

Bang taher berbisik,

"Eihh cantik kali itu yang keseleo, tolong bang fadil bilangin, biar aku yang bawa kerilnya"

"Keril dia aja kau mau bawa, keril ku coba bawa lahh"

"Eiihhh siapa tau di bawah nanti aku jadi calon suaminya toh?"

"Sial kau hahahaha"

Akhirnya aku bilang kepada si mbak yang keseleo untuk membawakan kerilnya.

Beban kami bertambah, tapi begitulah pendaki, saling menolong meskipun dalam kesusahan.

Pukul 5 sore kami sudah melewati pos 1, bang taher kelelahan membawa 2 beban keril.

"oke bang gantian sini biar aku yang bawa keril si mbak" kataku.

Sekarang beban ku bertambah, depan belakang, dan harus lari pula mengejar ktp, nafas sudah terengah engah, badan sudah meminta istirahat, paru paru sudah meminta asap, namun dengan semangat 45 aku, bang taher dan bang pian lari semakin cepat.

Pukul 6 kurang 5 menit, kami telah sampai di ranupani, tapi kurang lebih butuh waktu 10 menit untuk sampai ke base camp pengambilan ktp, kami lari semakin cepat, dengan nafas yang sudah sangat kelelahan.

Pukul 6 lebih 5 menit kami sampai di basecamp, dengan segala kecemasan kami mendekati pos pengambilan ktp.

Ahhhh betapa beruntungnya kami, masih buka. Tanpa istirahat, kami segera mengambil ktp. Dan tanpa aba aba, kami bersamaan ambruk di depan tukang bakso.

Butuh beberapa menit sampai kami tersadar bahwa kami lapar, kami segera memesan bakso dan membeli rokok. Dan bakso yang kami pesan adalah bakso terenak karena perut yang kelaparan, cuaca yang dingin, dan badan yang kelelahan. -baksoku dibayarin sama bang taher, makasih yo bang-

Pukul 9 malam rombongan kami yang lainnya sampai di basecamp, saatnya aku bingung bagaimana caranya pulang, aku tak memegang uang barang 10 ribu pun.

Mas agung menyuruhku ikut naik jeep mereka dan menginap ke markas hmi itn al-kindi malang. Ahh, tuhan selalu menyediakan tempat bagi mereka yang bisa berkomunikasi.

Aku ikut jeep mereka dan menginap di markas al-kindi malang, saudara memang tak pernah meninggalkan saudaranya.

-kelana semeru berakhir disini-

ego

Aku kembali mempertanyakan perihal dunia ini. Apakah dunia ini hanya berisi gengsi? Kemarin aku kembali berjalan. Menapaki egois dalam diri....