Tuesday, August 27, 2019

Geram #1


Sekarang pergantian hari dari selasa ke rabu, tanggal 27 ke 28.

Aku bercakap oleh seorang karib, bercakap tentang masa depan kami, tentang masa depan indonesia, tentang masa depan dunia.

Kemarin kemarin aku bercita cita ingin menjadi seorang hakim yang adil agar hukum negeri ini tak tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Beberapa saat lalu aku merubah total mindset ini, aku kelak ingin menjaga keutuhan NKRI, kalau soal persatuan aku yakin, 72 tahun NKRI berdiri pasti sudah belajar banyak tentang persatuan, ini bukan sekedar tentang persatuan.

Ini tentang keutuhan alam NKRI.
Sekarang manusia hanya berfikir untuk menciptakan menciptakan dan menciptakan. Tanpa tahu bagaimana harus memusnahkannya.

Bagai plastik yang ribuan bahkan ratusan ribu diciptakan hanya dalam sehari. Diciptakan dalam sehari, lalu bagaimana memusnahkannya? Di bakar? Asapnya sangat beracun untuk lapisan ozon, apalagi untuk tubuh manusia yang lemah. Di timbun? Hanya akan merusak lapisan tanah, tetap tak terurai. Dihanyutkan ke kali? Banjir bandang yang akan datang. Dibuang ke laut? Lihat! Biota laut belakangan ini begitu tersiksa dengan menganggap plastik itu makanan, atau yang lebih parah, terjebak dari masih peranakan hingga sekian tahun lamanya, membunuh secara perlahan.

Siapa yang peduli?

Aku ucapkan niat tak terduga ini pada keluarga tercinta, bukannya dukungan, malah  keraguan dan ceramah yang di lambungkan sebagai balasan.

'Nak, kalau kamu ambil jurusan kehutanan, maka anak istri kamu akan sengsara, mereka hidup sendirian sedang kamu melakukan tugas, bantar bantar kamu menjadi polisi hutan, atau kalau kamu kompeten kamu akan menjadi mentri kehutanan, dengan suapan sana sini, lebih baik kamu menjadi pendidik yang mendidik anak didik kamu supaya menyayangi alam ini lebih dalam'

Aku tercenung, mulai berfikir.

Bagaimana kalau setiap orang berfikir seperti itu? Maka siapa yang mengeksekusi? Siapa yang terjun langsung? Hanya mendidik, mengajar supaya anak didik jadi cinta alam lebih dalam.

Sedangkan anak anak abad ini sudah di cekoki kebodohan kebodohan yang begitu tolol.

Wahai keluargaku, biarkan aku mengejar mimpi ini. Seridaknya jika aku tak ambil kehutanan, biarkan aku yang membela rakyat kecil yang divonis tanpa tahu apa kesalahannya.

Aku kesal dengan keadaan.
Sekarang coba pikirkan, anak anak abad ini sudah dicekoki gen halilintar di youtube, dicekoki video video glamour dengan nikmatnga dunia, dicekoki dengan nikmatnya berpacaran.

Bayangkan kalau anak anak kampung, anak anak yang lahir dari keluarga sederhana memaksakan kehidupannya seperti kehidupan gen halilintar, yang ada hanya keluarga mereka semakin dihimpit dengan keadaan ekonomi.

Pendidik tidak bisa terjun ke dalam kehutanan, namun pelaku pelindung hutan bisa terjun ke dalam dunia pendidikan.

Aku sayang kalian keluargaku, tapi izinkan aku  menggapai apa yang ada dalam impianku saat ini.

1 comment:

ego

Aku kembali mempertanyakan perihal dunia ini. Apakah dunia ini hanya berisi gengsi? Kemarin aku kembali berjalan. Menapaki egois dalam diri....